KEPALA SEKOLAH
PENGUMUMAN TERBARU
KEGIATAN TERBARU
STATISTIK PENGUNJUNG
    Kunjungan hari ini : 10
    Total pengunjung : 62834
    Hits hari ini : 18
    Total Hits : 192875
    Pengunjung Online: 1

BELAJAR MENANGIS

Sabtu, 25 Agustus 2018 - WIB


Di rumah saya tidak ada televisi karena menurut saya banyak energi sosial bisa kita hemat dengan menutup semua stasiun sampah televisi. Pemerintah sepertinya punya pikiran sebaliknya. Tidak terlalu masalah, karena tanpa punya tipi, selesailah masalah.

Pada suatu hari ketika absen ke rumah simbah kakungnya anak-anak, iseng-iseng saya raih remote tipi dan menyalakan layarnya. Lah ndilalah muncul TVRI. Acaranya entah apa, yang jelas ada talkshow mengundang mentri yang baru dilantik beberapa jam sebelumnya.

Itulah pertama kali saya tahu di dunia ini ada seseorang bernama Pak Muhadjir Effendi. Ada yang lebih penting. Itulah pertama kali saya tahu ada istilah "significant others". Dalam wawancara itu penanya mengkonfirmasi apakah Pak Muhadjir benar pernah meneliti tema itu.

Saya langsung buka tipi pribadi saya sendiri. Klik Google, maksudnya. Oalah ... significant other! Saya paham pengertiannya meski gak kenal istilah bulenya.

Jadi semua makhluk terlahir egois. Semua secara naluri mementingkan dirinya sendiri. Orang lain yang dianggp penting selain dirinya sendiri, itulah significant other. Lebih jelasnya, teladan.

Ini memang masalah penting dalam pendidikan. Saya ceritakan kisah saya lagi sebagai gambarannya. Kali ini tentang anak saya.

Suatu hari anak saya secara khusus minta diajari tentang mubtada' khobar, satu topik dalam tata bahasa Arab. Oke, saya ajari. Belum tuntas belajar, karena sudah semakin malam, saya sarankan untuk bersambung besok dan berangkat tidur. Eh ... nangis dia!

"Kenapa lo?" tanya saya heran sekali.

Tidak ada jawaban. Sinyal-sinyal kodenya sulit saya dekoder.

"Besok ujian," kata ibunya. "Takut nilainya jelek kalau gak bisa jawab."

Oalah ... ujian! Oke, saya paham.

Tapi sedikit jengkel kenapa anak saya tidak paham-paham. Sudah saya bilang berkali-kali, sekolah itu bukan untuk jadi pintar. Sekolah untuk menghormati dan menyenangkan simbah putri, kakung dan saudara-saudara sekalian. Selain itu, sekolah untuk mencari teman sebanyak-banyaknya. Kalau mau pintar, ya cari guru yang bener-bener pintar lalu minta diajari, bukannya cari sekolahan. Maka kalau di sekolah gak pintar-pintar, jangan heran. Kita masuk sekolah gak jelas gurunya pintar apa nggak kok ...

Lah ini malah nangis!

Tapi saya pikir saya aneh juga. Bukankah untuk membuat seseorang senang, untuk mendapat teman banyak-banyak, anak saya perlu tampil keren di depan mereka semua. The Significant others. Salah satunya dengan jagoan mengerjakan ujian.

"Tujuannya ujian itu apa, kamu ingat?" tanya saya, menghiburnya. "Tidak ada yang baik dan buruk dalam nilai ujian. Yang ada misalnya kamu tidak bisa mengerjakan soal mubtada' khobar, gurumu jadi tahu kamu belum bisa itu lalu kembali mengajarimu biar bisa. Itu saja.

"Apakah tidak bisa itu buruk? TIDAK! Kalau gurumu bilang 'buruk', berarti dia guru buruk. Buktinya: dia tidak bisa mengajarimu sampai bisa kan?"

Tidak ada yang baik dan buruk dalam ujian. Pemerintah sepertinya punya pikiran sebaliknya.  Sungguh menjadi masalah, karena tanpa anak bersekolah, bertambah-tambah saya punya masalah. Saya tidak siap berkonflik dengan siapa saja, terutama dengan simbah putri dan kakung anak-anak saya.

Mungkin menangis memang opsi terbaik.

Minan Ali