KEPALA SEKOLAH
PENGUMUMAN TERBARU
KEGIATAN TERBARU
STATISTIK PENGUNJUNG
    Kunjungan hari ini : 10
    Total pengunjung : 62834
    Hits hari ini : 23
    Total Hits : 192880
    Pengunjung Online: 1

Think Pair Share (TPS) dengan Media Audiovisual Meningkatkan Apresiasi Puisi Siswa

Selasa, 17 November 2020 - WIB


Oleh : Ahmad Ali Ihsanudin, S.Pd
Pada masa ini pembelajaran bahasa ditunjukkan hanya sebatas pada keterampilan siswa menggunakan bahasa sesuai dengan konteksnya atau bersifat pragmatis. Sesungguhnya, bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik, karena dapat menunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diharapkan dapat membantu peserta didik dalam mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpatisipasi dalam masyarakat, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada di dalam dirinya
Pengajaran sastra di sekolah menengah pada dasarnya bertujuan agar siswa memiliki rasa peka terhadap karya sastra yang berharga sehingga merasa terdorong dan tertarik membacanya. Dengan demikian karya sastra diharapkan para siswa memperoleh pengertian yang baik tentang manusia dan kemanusiaan mengenal nilai-nilai dan mendapatkan ide-ide baru.Kurang menariknya pengajaran apresiasi puisi yang dilakukan oleh seorang guru dalam pembelajaran apresiasi sastra merupakan indikasi kegagalan fungsi sastra, sehingga ini akan berdampak pada rendahnya kemampuan apresiasi sastra dan buruknya karakter anak. Hal ini tampak pada rendahnya minat baca sastra yang berpengaruh pula pada lemahnya kemampuan siswa dalam mengapresiasi karya sastra.
Hambatan pengajaran sastra adalah sebagai berikut : Hambatan yang pertama berasal dari siswa itu sendiri. Siswa kurang berminat pada pembelajaran apresiasi Puisi. Mereka kurang tertarik, merasa kesulitan dalam menuangkan gagasan/ide ke dalam larik-larik puisi, kurang memiliki perbendaharaan kata yang memadai, kurang dapat memilih kata-kata dengan tepat serta kurang memahami bagaimana merangkaikan kata-kata ke dalam sebuah puisi. 
Hambatan yang ke dua berasal dari guru. Guru kurang dapat memotivasi siswa untuk lebih menyenangi pembelajaran Menulis Puisi. Selain itu metode yang digunakan guru kurang variatif, sehingga membosankan bagi siswa. Pembelajaran apresiasi puisi masih bertumpu pada pembelajaran klasik konvensional dengan strategi, pendekatan, dan metode pembelajaran yang belum mampu menumbuhkan kebiasaan berpikir produktif. Sebagai guru hendaknya pandai dalam memilih metode, teknik maupun model pembelajaran sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan
Hambatan lain adalah, bahwa guru masih melaksanakan penilaian yang bersifat teoretis (berupa pengetahuan dan pemahaman konsep) saja. Jadi pada pembelajaran Kemampuan apresiasi puisi, guru lebih cenderung mengevaluasi hal-hal yang berkaitan dengan teori puisi, misalnya bentuk-bentuk puisi, jenis-jenis puisi, unsur-unsur pembangun puisi (baik unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsik). Tentang bagaimana siswa menuangkan ide gagasannya ke dalam bentuk puisi dan apresiasi masih terabaikan oleh guru.
Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) memberikan kepada siswa waktu untuk berpikir, menjawab, merespon dan membantu satu sama lain. Melalui media ini penyajian bahan ajar tidak lagi membosankan karena siswa diberikan waktu untuk berdiskusi menyelesaikan suatu masalah atau soal bersama dengan pasangannya sehingga baik siswa yang pandai maupun siswa yang kurang pandai sama-sama memperoleh manfaat melalui aktivitas belajar ini. Jadi selama proses belajar mengajar diharapkan semua siswa aktif karena pada akhirnya nanti masing-masing siswa secara berpasangan harus membagikan hasil diskusinya di depan kelas kepada teman-teman lainnya. Model Think-Pair-Share (TPS) dikembangkan untuk meningkatkan penguasaan isi siswa terhadap materi yang diajarkan. Peningkatan penguasaan isi siswa terhadap materi pelajaran dilalui dengan tiga proses tahapan yaitu melalui proses thinking (berpikir) siswa diajak untuk merespon, berpikir dan mencari jawaban atas pertanyaan guru, melalui proses pairing (berpasangan) siswa diajak untuk bekerjasama dan saling membantu dalam kelompok kecil untuk bersama-sama menemukan jawaban yang paling tepat atas pertanyaan guru. Terakhir melalui tahap sharing (berbagi) siswa diajak untuk mampu membagi hasil diskusi kepada teman dalam satu kelas. Jadi melalui model Think-Pair-Share (TPS) ini penguasaan isi akademis siswa terhadap materi pelajaran dapat meningkat dan pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Selain itu Guru belum memberikan media yang menarik, yakni masih menggunakan teks puisi dari buku teks dalam pembelajaran. Hal ini menyebabkan peserta didik kurang tertarik dalam mengikuti pembelajaran. Seharusnya guru mampu menghadirkan media yang dapat menarik peserta didik dalam mengikuti pembelajaran, karena dengan ketertarikan tersebut akan tumbuh motivasi belajar pada peserta didik. Media yang bisa dihadirkan guru misalnya  bisa dengan media audio visual. Penggunaan media audio visual diharapkan dapat membuat pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan, karena sifat dari audio visual yang menarik dengan gambar yang dibuat semenarik mungkin membuat anak tertarik dan mempunyai keinginan untuk mengetahui lebih banyak.  
Keberhasilan proses dan  hasil  pembelajaran  dipengaruhi  oleh  beberapa  faktor,  di  antaranya  guru, siswa, model pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar. Pemilihan model pembelajaran yang kurang tepat akan berpengaruh pada kurangnya minat dan keaktifan siswa dalam pembelajaran serta rendahnya   hasil   belajar   siswa.   Oleh   karenanya,   dalam   memilih   model pembelajaran guru hendaknya juga memperhatikan kesenangan dan kebermanfaatannya bagi perkembangan peserta didik.
Penerapan model pembelajaran pembelajaran Think Pair Share (TPS) dengan memanfaatkan media audiovisual dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa dalam materi  apresiasi puisi. Penerapan Think Pair Share (TPS) dengan memanfaatkan media audiovisual yang terdapat dalam pembelajaran. 
Model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dengan memanfaatkan media audiovisual dapat meningkatkan minat dan  kemampuan apresiasi puisi siswa  karena melalui penerapan model pembelajaran ini tidak sekedar dapat menumbuhkan kesenangan pada diri siswa namun juga dapat melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran, memupuk keberanian, serta merespon sesuatu yang ada di sekitar. Respon-respon tersebut diungkapkan melalui kegiatan apresiasi puisi. Dengan demikian, diakhir pembelajaran siswa dapat mengapresiasi puisi dengan baik.