- Beranda
- ARTIKEL BERITA
- Mengembangkan Literasi di Masa Pandemi
Mengembangkan Literasi di Masa Pandemi
Selasa, 17 November 2020 - WIB

Oleh : Muhammad Da'i Sholih, S.Pd
Literasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca; kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan kecakapan hidup.Saat ini kita memasuki abad ke -21 yang menuntut siswa untuk banyak membaca dan menulis (literasi). Kegiatan membaca dan menulis diyakini akan meningkatkan keterampilan siswa dalam berpikir dan bertindak.
Pada tahun 2015 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Gerakan Literasi Sekolah dikembangkan berdasarkan Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. GLS dilatarbelakangi oleh masih rendahnya budaya baca masyarakat Indonesia khususnya pelajar. Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO 2012) mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001.
Sejak peluncurannya hingga sekarang GLS sudah berjalan selama lima tahun. Apakah tujuan dari GLS ini sudah tercapai? Tentu masih jauh dari harapan. Apalagi penerapan pada masa sekarang pada masa pandemi Covid -19. Gerakan literasi seakan-akan mati suri. Sejak diberlakukannya pembelajaran jarak jauh, literasi bukan menjadi suatu keharusan. Bagaimana cara mengembangkan gerakan literasi di masa pandemi ?
Gerakan Literasi Sekolah sebagai upaya menyeluruh yang melibatkan semua warga sekolah baik guru, peserta didik, orang tua, wali murid, dan masyarakat, sebagai bagian dari ekosistem pendidikan. Dengan demikian, gerakan ini membutuhkan dukungan kolaboratif berbagai elemen.Pembiasaan literasi di sekolah dalam hal ini pembelajaran daring adalah tanggung jawab semua guru di semua mata pelajaran karena pembelajaran apapun membutuhkan bahasa, terutama membaca dan menulis. Di masa pandemi ini pembelajaran dilakukan melalui Learning Management System( LMS) . Sebenarnya pembelajaran daring melalui LMS membuka kesempatan dan peluang untuk pengembangan literasi. Setiap materi dan tugas yang diberikan oleh guru di unggah di LMS, siswa untuk memahami materi harus mengunduh terlebih dahulu kemudian melakukan kegiatan literasi untuk pemahaman. Guru bisa memberikan tugas penyerta berupa pemahaman bacaan yang pertanyaannya bisa diambil dari bacaan. Dari hal tersebut secara tidak langsung siswa melaksanakan kegiatan literasi.
Selain itu sekolah bisa melaksanakan gerakan ini sebagai suatu program, hanya saja pelaksanaannya tidak di sekolah melainkan dari rumah siswa masing-masing. Program ini bisa disisipkan 15 menit setiap harinya selama pembelajaran. Bisa dilaksankan di awal pembelajaran atau di akhir jam pembelajaran. Langkah pertama siswa diberi kebebasan untuk memilih buku sesuai dengan minat dan kesukaaanya, bagi siswa yang tidak memiliki buku bisa meminjam buku diperpustakaan sekolah atau perpustakaan daerah. Selanjutnya siswa bisa melaksankan kegiatan literasi bisa dipandu oleh wali kelas. Setelah melaksanakan kegiatan literasi siswa diminta untuk mengisi jurnal pemantauan literasi yang diisi secara online sehingga wali kelas bisa memantau perkembangan literasi siswanya. Wali kelas juga bisa memberikan pengertian bahwa kegiatan literasi adalah kegiatan yang utama dalam memahami pengetahuan, siswa yang pandai biasanya adalah siswa yang memiliki kemampuan literasi yang baik. Untuk mengoptimalkan GLS peran orang tua sangat diperlukan. Orang tua dipersiapkan untuk menjadi agen GLS di rumahnya. Misalnya, dengan memberikan contoh kepada anak-anaknya untuk rajin membaca, memiliki minat yang tinggi dalam mengoleksi buku-buku, menyediakan buku-buku bacaan bagi anak-anaknya, menyediakan waktu untuk membaca dan berdiskusi bersama, membawa anak-anaknya untuk mengunjungi perpustakaan dan toko buku, melakukan kegiatan bersama dengan sekolah atau kelompok masyarakat dalam kegiatan literasi, dan lain sebagainya.
Dengan adanya sinergi antara sekolah, guru, siswa dan orang tua dalam mengembangkan literasi khususnya di masa pandemi. Diharapkan dapat meningkatkan literasi siswa dan meningkatkan pemahaman dan hasil belajar. Kecintaan siswa terhadap literasi meningkat bukan hanya sebagai tuntutan tetapi sebagai suatu kebutuhan.

Kunjungan hari ini : 208
Total pengunjung : 285361
Pengunjung Online: 5